astudioarchitect.com Terdapat faktor yang sangat mempengaruhi bagaimana kita merancang bangunan yang sering dilupakan baik oleh arsitek maupun owner. Faktor tersebut adalah faktor lingkungan, yaitu bagaimana lingkungan disekitar lahan bisa mempengaruhi perancangan desain arsitektur. Tidak hanya desain denah, namun juga tampilan bangunan dipengaruhi juga oleh bagaimana lingkungan dan interaksinya dengan bangunan. Rumah dibangun berdasarkan kondisi lapangan yang kadang sesuai dan kadang tidak sesuai dengan keinginan. Diantara faktor lingkungan yang perlu diperhatikan, terdapat beberapa faktor yang paling kuat.
Rumah tahan gempa memiliki konstruksi rumah yang bukan
saja kuat, namun kaku (rigid
). Konstruksi rumah menjadi satu kesatuan yang utuh, tidak terpisah.
Sambungan antara tiang, balok pengikat fondasi (sloof
), balokpengaku (ringbalk
), dan rangka atap saling mengikat satu sama lain. Jika rumah diguncang
gempa, konstruksinya tidak mudah ambruk.Untuk Bearing Wall
dalam rancangan rumah bertingkat menerapkan prinsip konstruksi
rumah tahan gempa. Ia menggunakan semacam struktur yang mengutamakan
dinding sebagai penahan beban bangunan. Termasuk menahan beban dari luar
seperti angin, hujan, serta gempa.Dengan bearing wall
ini rumah memiliki struktur yang kokoh, stabil, dan tahan terhadap
goncangan beban akibat gempa.
Yang kedua, rumah yang berada pada daerah dataran rendah (laut) akan memiliki bebrapa masalah lain, diantaranya dinding rumah akan mengalami pengeroposan pada materialnya. Udara pada daerah pantai cenderung asin dan dapat mempercepat keausan bangunan rumah.cara penganggulangan yang paling sederhana adalah dengan menggunakan bahan materia yang tahan terhadap kondisi asin. Seperti contoh penggunaan batu bata putih sebagai material pembuatan dinding akan lebih kuat dibandingakan penggunaan batu bata merah
Berbeda dengan membangun rumah di lahan biasa, banyak hal yang harus diperhatikan untuk rumah di dekat pantai. Hal itu dikarenakan kondisi lahan pantai yang cenderung berpasir dan berbatu. Konstruksinya harus kuat di bawah dan sedapat mungkin tidak merusak lingkungan. Tidak ada keharusan untuk menggunakan fasad dengan gaya tertentu. Yang lebih penting dari itu adalah orientasi bangunannya yang memaksimalkan pemanfaatan view laut.
Bukaan-bukaan dan ventilasi yang baik dapat mengatasi udara lembab di
tepi pantai. Udara yang panas dapat disiasati dengan menanam banyak
pohon. Pohon-pohon tersebut juga dapat menjadi penahan apabila terjadi
angin kencang yang membawa serta pasir. Maka konsep arsitektur tropis
lebih dianjurkan untuk rumah di tepi pantai. Perpaduan material bangunan
yang kuat dan desain yang aerodinamis dapat mengokohkan bangunan,
sehingga bangunan dapat bertahan ketika diterpa angin kencang.
Optimalisasi eksterior
Karena orientasi bangunan yang dari dalam ke luar, rumah pantai sebaiknya lebih banyak diolah di eksteriornya. Misalnya dengan menghadirkan patio, gazebo, dek untuk menikmati pemandangan laut, dan elemen eksterior lainnya. Disarankan untuk menambahkan teras dan balkon di setiap kamar, agar view pantai yang indah tidak tersia-siakan. Hal kecil seperti hadirnya shower di bagian luar rumah akan menjadi penting untuk rumah di dekat pantai. Tentu saja fungsinya untuk membersihkan diri ketika hendak memasuki rumah setelah berjalan-jalan dan bermain di pantai.
Karena orientasi bangunan yang dari dalam ke luar, rumah pantai sebaiknya lebih banyak diolah di eksteriornya. Misalnya dengan menghadirkan patio, gazebo, dek untuk menikmati pemandangan laut, dan elemen eksterior lainnya. Disarankan untuk menambahkan teras dan balkon di setiap kamar, agar view pantai yang indah tidak tersia-siakan. Hal kecil seperti hadirnya shower di bagian luar rumah akan menjadi penting untuk rumah di dekat pantai. Tentu saja fungsinya untuk membersihkan diri ketika hendak memasuki rumah setelah berjalan-jalan dan bermain di pantai.






0 komentar:
Posting Komentar